Tahukah Anda kisah tentang seekor kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya? Dikisahkan suatu hari seorang pria melihat seekor bayi kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar dari kepompongnya. Karena merasa kasihan, maka pria itu memutuskan untuk membantu bayi kupu-kupu itu dengan menggunting lubang jalan keluar bayi kupu-kupu itu supaya ia mudah keluar. Namun apa yang kemudian terjadi? Bayi kupu-kupu itu hanya bisa merangkak dan tidak dapat terbang. Ternyata ketika bayi kupu-kupu itu berjuang untuk keluar dari kepompongnya, ia akan mengeluarkan cairan yang berfungsi menguatkan sayap-sayapnya sehingga dapat terbang sesuai fungsinya. Pria itu tidak mengetahui bahwa Allah memiliki maksud dari setiap kejadian. Bahwa apa yang menurut manusia itu baik belum tentu baik menurut Allah, dan hanya rencana Allah yang terbaik.
Maka untuk menjadi kupu-kupu yang indah dan dapat terbang, dibutuhkan usaha yang gigih dan tidak instan, sama seperti halnya manusia. Manusia terkadang menginginkan hasil dengan jalan yang mudah, tapi sesungguhnya rencana Allah saja Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ujian demi ujian itu hakekatnya adalah sarana untuk menempa manusia untuk meningkatkan derajat ketakwaannya di hadapan Allah dan sesungguhnya merupakan bukti kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya.
Mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah melalui penciptaan alam semesta beserta isinya, termasuk kisah kupu-kupu tersebut menjadi pembelajaran bagi manusia yang berpikir, bahwa tidak serta merta Allah menjadikan segala sesuatu dengan berbagai kejadian tanpa maksud. Sama halnya dengan kisah hidup saya. Alhamdulillah saya dilahirkan dari keluarga yang beragama Islam. Dari kecil hingga remaja, apa yang saya ketahui adalah Islam adalah agama yang benar dan membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Orang tua saya membekali saya dengan pengetahuan agama, mulai memasukkan saya ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), pesantren kilat, dan pengajian rutin di rumah. Ketika kecil saya hanya menerima apa yang diberikan pada waktu itu tanpa penolakan. Masih terekam oleh memori saya betapa saya menikmati proses belajar mengaji dan mendengarkan ceramah.
Alhamdulillah ketika SD kelas 6 saya mengetahui bahwa Allah memerintahkan muslimah untuk memakai jilbab dan hukumnya wajib. Saya pun saat itu ingin mengenakan jilbab, tetapi ibu mengizinkan saya memakainya ketika duduk di bangku SMP karena pada waktu itu masih jarang muslimah yang berjilbab dan tidak ada seragam sekolah untuk siswa berjilbab seperti sekarang. Saya pun menuruti kata ibu. Ketika SMP akhirnya saya pun berjilbab dan saya pun merasa bahagia. Namun, hidup saya mengalir begitu saja. BerIslam karena dasar keturunan, pengetahuan demi pengetahuan tentang Islam yang masuk dan dicerna belum sempurna oleh anak remaja yang belum baligh saat itu.
Tetapi semua itu berubah ketika saya menginjak kelas 2 SMP. Ketika itu saya tertarik memasuki organisasi DKM Mesjid di sekolah. Akhirnya saya bertemu dengan teman-teman dan mentor-mentor yang baik dan sabar dalam membimbing saya memahami ajaran Islam. Setiap ahad merupakan hari yang saya tunggu karena saya merasakan kenikmatan berdiskusi dan memperdalam Islam. Saya diajak untuk berpikir dan memfungsikan akal saya. Sungguh luar biasa potensi yang Allah berikan kepada manusia, salah satunya adalah fitrah yang ingin selalu memilih jalan kebenaran.
Dulu yang saya pahami berIslam itu hanyalah melaksanakan ibadah ritual saja dengan baik, seperti sholat, zakat, puasa, naik haji bagi yang mampu. Pendek kata, hanya ibadah vertikal saja. Menjalani kehidupan seperti air yang mengalir, mulai dari kecil, bersekolah di TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, menikah, menjadi tua dan menunggu ajal. Kehidupan yang biasa. Tetapi setelah berdiskusi dan berpikir, saya akhirnya menyadari bahwa Allah memiliki tujuan ketika menciptakan manusia, termasuk saya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
Dan ternyata ibadah itu luas sekali cakupannya. Setiap saat hidup kita adalah ibadah, bukan hanya ibadah ritual saja dimana ibadah merupakan manifestasi ketundukan dan ketaatan manusia kepada yang ditaatinya. Dan sudah seharusnya manusia hanya tunduk kepada Penciptanya yaitu Allah SWT dan melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah, sebagai wujud rasa syukur kita akan nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Sepanjang hayat kita dan apapun aktivitas kita harus dilandasi ketundukan kita kepada Sang Pencipta dan caranya harus sesuai pedoman hidup yang Allah turunkan yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.
Contohnya ketika kita melakukan aktivitas makan, maka hal yang terlihat sepele dan biasa itu dapat menjadi ibadah yang ternilai amal sholeh di sisi Allah. Semoga dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya ini menjadikan tubuh saya sehat sehingga dapat melakukan aktivitas-aktivitas ibadah lainnya. Tentunya ketika makan diperhatikan tata cara ata adab makan yang benar menurut Islam, misalnya makanan harus halal dan baik, berdo’a sebelum makan, memakan makanan dengan tangan kanan, dan menyudahinya dengan do’a pula. Contoh lain, ketika saya menuntut ilmu maka yang menjadi cita-cita tertinggi saya bukanlah mendapatkan pekerjaan yang mapan dan gaji yang tinggi dengan dilandasi oleh hawa nafsu, tetapi saya menuntut ilmu semata-mata karena Allah dan semoga ilmu tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam dengan ilmu pengetahuan yang didasari akar aqidah yang kuat. Sehingga apapun aktivitas yang kita lakukan senantiasa dilandasi oleh dasar atau niat yang benar, proses yang benar, dan tujuan yang benar. Dengan demikian maka semua aktivitas kita dapat ternilai menjadi amal sholeh. Sungguh luar biasa. Tidak ada satu hal pun yang tidak terkait dengan Allah. Tidak ada yang tidak diatur dalam Islam, dari hal terkecil sampai hal terbesar, dan Islam merupakan satu-satunya Dien yang diridhoi Allah supaya manusia selamat tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Jadi Islam bukan hanya sekedar agama, tetapi Islam adalah suatu sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
Maka hidup kita sudah seharusnya merupakan pengabdian kepada Allah, bukan hanya semata-mata sebagai hamba Allah tetapi sebagai khalifah Allah di muka bumi yang senantiasa memiliki tujuan untuk mendukung tegaknya eksistensi Allah di muka bumi. Ketika seseorang tidak memiliki tujuan hidup maka hidupnya akan tidak teratur, kacau, dan mengalir tak tentu arah.
Momen dimana saya memahami diri saya, siapa pencipta saya, dan untuk apakah saya diciptakan, merupakan momen dimana saya merasakan transformasi hidup yang luar biasa dalam hidup saya. Seakan-akan ada pelita yang menerangi pikiran saya. Semuanya menjadi jelas dan jernih. Pengetahuan-pengetahuan yang telah saya dapat sebelum saya paham mulai menemukan benang merah dan ketersambungannya. Simpul demi simpul pengetahuan itu menjalin menjadi satu. Cara pandang saya dalam memandang kehidupan menjadi berubah. Ibaratnya saya berhijrah dari cara pandang ber-Islam karena keturunan menjadi cara pandang ber-Islam karena pilihan hidup. Sehingga jelaslah apa yang dulu Rasulullah Muhammad Saw. perjuangkan sampai kemenangan Islam ketika futuh Mekah dan menguasai 2/3 dunia. Rasulullah, para sahabat dan pengikutnya yang setia senantiasa menyeru manusia ke jalan Allah, membebaskan perbudakan manusia atas manusia, dan mengembalikan manusia dari kegelapan kepada cahaya Allah. Dan saya ingin termasuk umat Rasulullah yang menyeru manusia dari kegelapan menuju cahaya Allah…
Tentu saja perjuangan menegakkan eksistensi Allah sebagai satu-satunya Raja di muka bumi ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya belum pernah sampai mengalami apa yang Rasulullah dan para sahabat alami sampai berhadapan dengan resiko hilangnya nyawa, tetapi sesuai sunnatullah, perjuangan itu pasti mendaki lagi sukar, maka saya mengutip sebuah puisi karya anonim :
Rintangan yang Ramah
Untuk setiap bukit yang kudaki,
Untuk setiap batu yang melecetkan kakiku,
Untuk semua darah, keringat, dan kaki,
Untuk badai yang membutakan dan panas yang membakar,
Hatiku harus mengucapkan syukur
Ini semua adalah hal-hal yang membuatku kuat!
Untuk semua sakit hati dan air mata,
Untuk semua penderitaan dan rasa nyeri,
Untuk hari-hari yang muram dan tahun-tahun tanpa hasil,
Dan untuk pengharapan yang dihayati sia-sia,
Aku mengucapkan “Alhamdulillah”, sebab sekarang aku tahu
Ini adalah hal-hal yang membuatku tumbuh!
Bukanlah hal-hal yang lebih lunak dalam kehidupan,
Yang merangsang kemamuan untuk berjuang.
Tapi kesudahan dan penderitaan yang gersang
Berbuat paling banyak untuk menjaga kehendak kita tetap hidup
Di atas jalan setapak bertabur mawar orang yang lemah merayap,
Tetapi hati yang tabah berani mendaki tebing
Beruntunglah para pejuang Allah yang diuji dengan ujian-ujian yang luar biasa, sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 214:
“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Sesungguhnya syurga itu mahal, tidak akan terbeli bahkan dengan emas sepenuh langit dan bumi, dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang rela mengorbankan harta dan jiwanya demi meraih keridhoan Allah memenangkan Dienullah. Dan saya senantiasa berdo’a memohon kepada Allah agar senantiasa dikuatkan dan tetap istiqomah memegang visi dan misi hidup yang benar menurut Allah.
Ketika manusia sudah memahami eksistensi dirinya dan tujuan hidupnya, maka hal tersebut merupakan garis besar yang sangat krusial dan sangat menentukan keberhasilan hidup seorang manusia. Pernahkan Anda ditanya tentang tujuan hidup Anda? Lalu, apakah jawaban Anda? Meraih kesuksesan materi, kehormatan, gelar, keluarga bahagia? Apa standar bahagia dalam hidup Anda? Apakah dengan mendapatkan itu semua Anda akan bahagia? Seorang manusia seharusnya bahagia jika dia sudah menunaikan kewajiban hidupnya di dunia untuk bekalnya di akhirat nanti. Dia akan merasa bahagia manakala Sang Penciptanya meridhoi amal perbuatan yang telah dilakukannya. Bukankah hidup seperti itu sangatlah indah? Dia tidak akan tergelincir ke suatu hal yang sia-sia. Dia akan mengangkat seluruh kemampuan dan potensi yang dimiliki hanya untuk mensukseskan tujuan hidupnya itu dengan tetap bergantung kepada Allah.
Dia akan melangkah dengan mantap untuk mendapatkan kecintaan Allah. Sungguh indah... Hari-hari dilalui dengan penuh kebahagiaan, tanpa perlu merasa resah, gundah, atau gelisah. Rasa sakit yang dunia berikan kepadanya tidak menggentarkan langkahnya sedikit pun untuk meraih kebahagiaan hakiki. Tubuhnya penuh luka dan terasa perih, namun jiwanya tersenyum bahagia. Segala penderitaan duniawi tidaklah sebanding dengan kebahagiaan yang dia rasakan. Ajal pun tidaklah menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Dia senantiasa siap dengan semua ketetapan Allah sebab dia rindu untuk bertemu dengan-Nya. Tidak ada lagi kebahagiaan tertinggi selain bisa bertemu dengan Allah. Jadi, apakah tujuan hidup Anda?
Showing posts with label Highlight. Show all posts
Showing posts with label Highlight. Show all posts
Wednesday, May 27, 2015
Friday, May 15, 2015
Sunday, May 3, 2015
A letter of Love
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta saudara-saudariku yang in syaa Allah tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, lebih bermakna dan indah.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang kerap kali terisi oleh cinta selain-Nya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karena-Nya, lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana keikhlasan. Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan karena yang kulakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses.
Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa saudara/i-ku yang mulai lelah menapaki jalan-Nya ketika seringkali mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan, serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh saudara/i-ku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu dimanakah kejujuran diletakkan? Dan kini terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah hanya rutinitas belaka, saat fisik dan pikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan semu. Coba lihat hatimu menangis, tertawa dan merana?
Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri saudara/i-ku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan-Nya selain ketakwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita masih bergulat terus dengan kefanaan.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, dan saat tiada rasa dosa ketika mendzalimi diri dan saudaranya.
Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dari-Nya.
“Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut, hari yang ditentukan, dan yang tidak ditentukan. Hari yang tidak ditetapkan, akupun tidak gentar dan hari yang ditentukan pun aku tidak kuasa menghindarinya. Kukatakan padanya, ia telah terbang bertabur bintang. Dari para syuhada yang gugur yang tidak kau pedulikan. Maka sesunggunya engkau walau meminta penundaan meski sehari atas ajal yang ditetapkan padamu, tentu ia takkan mau karena itu bersabarlah saat menghadapi kematian karena mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil.”
(Disenandungkan oleh Ali bin Abi Thalib kala menghadapi musuh-musuhnya)
_dari secarik kertas yang ditemukan di sebuah kotak yang terselimuti debu, semoga bermanfaat_
Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta saudara-saudariku yang in syaa Allah tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, lebih bermakna dan indah.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang kerap kali terisi oleh cinta selain-Nya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karena-Nya, lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana keikhlasan. Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan karena yang kulakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses.
Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa saudara/i-ku yang mulai lelah menapaki jalan-Nya ketika seringkali mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan, serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh saudara/i-ku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu dimanakah kejujuran diletakkan? Dan kini terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah hanya rutinitas belaka, saat fisik dan pikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan semu. Coba lihat hatimu menangis, tertawa dan merana?
Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri saudara/i-ku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan-Nya selain ketakwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita masih bergulat terus dengan kefanaan.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, dan saat tiada rasa dosa ketika mendzalimi diri dan saudaranya.
Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dari-Nya.
“Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut, hari yang ditentukan, dan yang tidak ditentukan. Hari yang tidak ditetapkan, akupun tidak gentar dan hari yang ditentukan pun aku tidak kuasa menghindarinya. Kukatakan padanya, ia telah terbang bertabur bintang. Dari para syuhada yang gugur yang tidak kau pedulikan. Maka sesunggunya engkau walau meminta penundaan meski sehari atas ajal yang ditetapkan padamu, tentu ia takkan mau karena itu bersabarlah saat menghadapi kematian karena mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil.”
(Disenandungkan oleh Ali bin Abi Thalib kala menghadapi musuh-musuhnya)
_dari secarik kertas yang ditemukan di sebuah kotak yang terselimuti debu, semoga bermanfaat_
Friday, May 1, 2015
Bengras
Alhamdulillah baru saja berasa mendapatkan hadiah luar biasa dari Allah.. kesempatan untuk bersilaturahmi dengan seorang dulur, motivator yg sangat inspiring :)
Membahas mengenai cita-cita... sejauh apa mau memegang dan mewujudkan cita2 tersebut... dan mengenai kecintaan kepada Allah.. kalau cinta kepada Allah, maka Allah pasti akan mengujinya. Semakin besar rasa cinta tersebut maka semakin kuat ujiannya. Seperti Rasulullah Muhammad yang kehilangan istrinya Khadijah dan pendukung setianya yaitu pamannya Abu Thalib yang sayangnya tidak beriman sampai akhir hayatnya.. Entah mengapa mendengar ini, meski sudah tahu.. rasanya mau menangis... jadi Allah itu Maha Pencemburu.. Allah pasti akan menguji cinta kita kepada Allah.. bisa dengan mengambil makhluk fana yang kita cintai... apakah masih mau bergantung kepada Allah? Apakah masih mau nyepeng kana cita2? Apakah benar janji kita hanya menjadikan Allah satu2nya Rabb, Malik, dan Ilah dalam hidup kita? Kalau kita tidak mampu mengambil 'resiko' kehilangan tersebut, maka cek kembali pernyataan cinta kita kepada Allah.. cek kembali apakah kita benar2 pejuang Allah.. yakin bahwa jika pertemuan dan perpisahan itu sudah menjadi qada dan qadar dari Allah.. siap bertemu dan siap berpisah karena Allah.. da pada akhirnya jika ikhlas karena Allah.. in syaa Allah akan dipertemukan kembali di jannahNya... (dalam hati pengen nangis bombay tapi ditahan T____T)
Ma syaa ALLAH... jleb jleb jleb..
Jangan sampai menjadi umat yg digantikan oleh umat yang lebih baik seperti dalam firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."
Diingatkan lagi juga mengenai pentingnya berkasih sayang sesama mukmin.. dan bersikap 'berwibawa' di hadapan orang2 kafir (terjemahannya kurang tepat, arti lebih tepatnya lebih ke gagah dan berwibawa). Jadi entong elehan jadi pejuang teh.. utk menguatkan tekad maka lakukanlah istikhoroh dan musyawarah.. jadi istikhoroh teh bukan hanya ketika bingung milih jodoh aja seperti kebanyakan orang pahami.. tapi supaya panceg kana cita2.. senantiasa memilih pilihan yanh benar sesuai petunjuk Allah. Dan jangan sepelekan musyawarah untuk mencapai visi dan misi bersama.. bangun teamwork yg solid, yg dilandasi kasih sayang karena Allah..
Membahas juga mengenai pentingnya mindset yg bisa ditimbulkan dari penggunaan bahasa... mulai gunakan bahasa2 positif yg dapat memotivasi.. memandang teman yg kita ajak bukan sebagai "objek" tapi sebagai subjek atau partner yg bersama2 diajak babarengan beramal sholeh demi mencapai cita2 tertinggi.. menegakkan Dienullah.. menjadi teman curhat.. menjadi soulmate.. menjadi saudara.. menjadi dulur.. saling tolong menolong.. yg memiliki keterikatan batin yg kuat, hasil transfer keyakinan ruhiyah.. sesuai yang dicontohkan Rasulullah.. tidak menjejali dengan materi2 dan konsep semata tapi bisa ikut berempati terhadap kondisi diri atau yg sedang 'on' dalam diri.. subhanalloh..
Masih banyak piobroleun.. tapi ga semua bisa tertulis dan sudah waktunya berpisah.. semoga apa yg sudah didapatkan bukan hanya menjadi konsep tapi menjadi langkah yang mengakar. Betul istilah radikalisme sebenernya positif, tapi sekarang dikonotasikan negatif :(
Ah.. bahagia rasanya jika jiwa ini di-charge lagi.. smoga masih ada kesempatan utk bersilaturahmi lagi ya lur.. in syaa Allah..
Bener euy, bengras ^______^
Ma syaa ALLAH... jleb jleb jleb..
Jangan sampai menjadi umat yg digantikan oleh umat yang lebih baik seperti dalam firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."
Diingatkan lagi juga mengenai pentingnya berkasih sayang sesama mukmin.. dan bersikap 'berwibawa' di hadapan orang2 kafir (terjemahannya kurang tepat, arti lebih tepatnya lebih ke gagah dan berwibawa). Jadi entong elehan jadi pejuang teh.. utk menguatkan tekad maka lakukanlah istikhoroh dan musyawarah.. jadi istikhoroh teh bukan hanya ketika bingung milih jodoh aja seperti kebanyakan orang pahami.. tapi supaya panceg kana cita2.. senantiasa memilih pilihan yanh benar sesuai petunjuk Allah. Dan jangan sepelekan musyawarah untuk mencapai visi dan misi bersama.. bangun teamwork yg solid, yg dilandasi kasih sayang karena Allah..
Membahas juga mengenai pentingnya mindset yg bisa ditimbulkan dari penggunaan bahasa... mulai gunakan bahasa2 positif yg dapat memotivasi.. memandang teman yg kita ajak bukan sebagai "objek" tapi sebagai subjek atau partner yg bersama2 diajak babarengan beramal sholeh demi mencapai cita2 tertinggi.. menegakkan Dienullah.. menjadi teman curhat.. menjadi soulmate.. menjadi saudara.. menjadi dulur.. saling tolong menolong.. yg memiliki keterikatan batin yg kuat, hasil transfer keyakinan ruhiyah.. sesuai yang dicontohkan Rasulullah.. tidak menjejali dengan materi2 dan konsep semata tapi bisa ikut berempati terhadap kondisi diri atau yg sedang 'on' dalam diri.. subhanalloh..
Masih banyak piobroleun.. tapi ga semua bisa tertulis dan sudah waktunya berpisah.. semoga apa yg sudah didapatkan bukan hanya menjadi konsep tapi menjadi langkah yang mengakar. Betul istilah radikalisme sebenernya positif, tapi sekarang dikonotasikan negatif :(
Ah.. bahagia rasanya jika jiwa ini di-charge lagi.. smoga masih ada kesempatan utk bersilaturahmi lagi ya lur.. in syaa Allah..
Bener euy, bengras ^______^
Saturday, April 25, 2015
Kesabaran yang baik
Saat kau mengazzamkan sesuatu yg benar, pasti Allah akan mengujinya.. apakah masih mau memegangnya atau menyerah dan melepaskannya.
Masih situasi klasik. Yang melibatkan kesabaran. Mengutip Quran surat Al Ma'arij ayat 5 mengenai kesabaran yg baik. Kesabaran yg baik adalah kesabaran yang menenangkan, tidak disertai dengan kemarahan, kegoncangan, dan keraguan terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran orang yg ridho pada qadar Allah, yg merasakan hikmah di balik ujianNya, selalu berhubungan denganNya, dan mengharap pahala dariNya.
Masya Allah... luar biasa.. saat saya pertama kali membaca itu, ingin memiliki kesabaran yg demikian.. ingin memiliki hati seluas samudera, lapang, tenang, tetap jernih dan fokus pada tujuan utama yaitu mardhotillah..
Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk bisa memaknai apapun peristiwa yg terjadi dalam hidup kita.. menyikapi segala macam gangguan, hambatan, dan ujian dengan kesabaran yg baik.. kata Allah juga apakah kamu akan dibiarkan begitu saja tanpa diuji jika mengaku beriman? Maka beruntunglah orang yg diuji sebab Allah hendak menaikkan kualitas iman dan kemuliaan kita..
Jadi, sabar yang baik ya :)
Saturday, April 18, 2015
Rintangan Yang Ramah
Untuk setiap bukit yang kudaki,
Untuk setiap batu yang melecetkan kakiku,
Untuk semua darah, keringat dan langkah,
Untuk badai yang membutakan dan panas yang membakar,
Hatiku harus mengucapkan SYUKUR.
Ini semua adalah hal-hal yang membuatku kuat!
Untuk semua sakit hati dan air mata,
Untuk semua penderitaan dan rasa sakit,
Untuk hari-hari yang muram dan tahun-tahun tanpa hasil,
Dan untuk pengharapan yang dihayati sia-sia,
Aku mengucapkan "Alhamdulillah", sebab sekarang aku tahu,
Ini adalah hal-hal yang membantuku tumbuh!
Bukanlah hal-hal yang lebih lunak dalam kehidupan,
Yang mendorong kemauan untuk berjuang,
tapi kesudahan dan penderitaan yang gersang.
Berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga cita-cita kita tetap hidup.
Di atas jalan setapak bertabur mawar, orang yang lemah merayap,
tetapi hati yang TABAH dan BERANI mendaki TEBING.
taken from a book
Untuk setiap batu yang melecetkan kakiku,
Untuk semua darah, keringat dan langkah,
Untuk badai yang membutakan dan panas yang membakar,
Hatiku harus mengucapkan SYUKUR.
Ini semua adalah hal-hal yang membuatku kuat!
Untuk semua sakit hati dan air mata,
Untuk semua penderitaan dan rasa sakit,
Untuk hari-hari yang muram dan tahun-tahun tanpa hasil,
Dan untuk pengharapan yang dihayati sia-sia,
Aku mengucapkan "Alhamdulillah", sebab sekarang aku tahu,
Ini adalah hal-hal yang membantuku tumbuh!
Bukanlah hal-hal yang lebih lunak dalam kehidupan,
Yang mendorong kemauan untuk berjuang,
tapi kesudahan dan penderitaan yang gersang.
Berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga cita-cita kita tetap hidup.
Di atas jalan setapak bertabur mawar, orang yang lemah merayap,
tetapi hati yang TABAH dan BERANI mendaki TEBING.
taken from a book
Garden of Flowers
Repost lagi.. dari 2012.. kumpulan pikiran2 yg berkelebat saat itu..
Betapa
Betapa seringkali pikiran dan perasaan ini bercabang.
Betapa seringkali niat yang sedari awal sudah lurus tiba-tiba tercampur dengan niat dan motivasi lain.
Betapa Allah benar-benar menguji mental seorang mukmin.
Betapa seringnya aku harus bertanya pada diriku sendiri, ”Apa sih niatmu sebenarnya?” dan kembali menjawab, ”Ayo luruskan niat. Niatku hanya –dan hanya- untuk beribadah kepada Allah saja dan mengharap ridho-Nya saja.” Dan kembali berlanjut dan berlanjut.
Betapa menyesalnya ketika amal kebaikan yang dilakukan ternyata tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah jika niatnya saja sudah salah. Betapa Maha Mengetahui dan Maha Adil Allah SWT itu....
Betapa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang tetap tunduk menjalankan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-
larangan-Nya.
Betapa gersangnya jiwa yang tidak menyadari betapa besarnya rasa cinta dan kasih sayang Allah pada hamba-Nya yang juga mencintai-Nya.
Betapa hanya Allah saja yang mampu berkuasa atas segala sesuatu.
Subhanallah….aku kembali diingatkan untuk selalu meluruskan niat. Niat yang benar. Hanya mengharap ridho Allah. Hanya untuk beribadah kepada-Nya saja. Betapa dahsyat godaan setan. Senantiasa membelokkan niat yang benar. Mungkin untuk melakukan semua itu, akan
membutuhkan energi yang sangat besar. Sangat besar, bahkan aku sering merasa gugup untuk memulainya. Butuh
pemaksaan. Tapi seseorang mengatakan bahwa itu merupakan bentuk keikhlasan yang baru mampu kulakukan saat itu. Aku belum bisa melakukannya dengan gembira
tetapi dengan tarikan yang kuat untuk berhenti, bahkan untuk jatuh. Hal itu belum dapat kulakukan dengan bahagia.
Berat. Ya, bagiku memang berat... Tapi aku tahu inilah jalan yang benar. Aku tahu hanya jalan ini yang hanya membawaku pada keselamatan. It’s the only way...
------------------------------------------------------------------
Vertigo
Pikiran yang teralihkan. Saat memiliki tujuan tertentu, ada suatu faktor pengalih perhatian sehingga seakan-akan ‘si
pengganggu’ yang menjadi target dari apa yang ingin kita lakukan. Dan setan memang tidak pernah lelah mengalihkan perhatian mukmin dari tujuan mulia yang ingin
dicapainya. Dan gangguan itu memang benar-benar tidak main-main, melesat menuju sasaran yang tepat, yaitu hati.
Saat-saat seperti inilah dibutuhkan kerja keras dan langsung fokus pada tujuan sebenarnya. Segera meluruskan niat, membersihkan hati, dan berhenti bermain
api karena itu sangat berbahaya bagi jiwa.
-------------------------------------------------------------------
Celah !
Saat aku mulai melupakannya, tiba-tiba aku kembali diingatkan soal menjaga hijab. Betapa mungkin tanpa kusadari aku terlalu bebas membuka diriku, bahkan mungkin merespons meski aku sebenarnya merasa telah menaruh tembok besar alias batasan di hadapanku. Aku kembali diingatkan untuk tidak membuka celah sedikit pun.
Jika perlu, aku harus tega. Terima kasih untuk tidak membuka celah padaku. Aku diingatkan bahwa harga seorang mukmin itu sangatlah tak terhingga. Allah membeli
jiwa-jiwa yang penuh pengabdian pada-Nya dengan surga. Benar-benar murah diriku jika aku menjual pengabdianku, kecenderungan hidupku, bahkan cintaku pada zat-zat yang fana. Semuanya sudah ditentukan, jadi tenang dan fokus pada hal penting yang membentang di hadapanku sekarang.
-------------------------------------------------------------------
Dan karena aku ingin bersama-sama dengan kalian... dulur..
mencapai taman bunga yang indah di surga yang abadi kelak... in syaa Allah...
Betapa
Betapa seringkali pikiran dan perasaan ini bercabang.
Betapa seringkali niat yang sedari awal sudah lurus tiba-tiba tercampur dengan niat dan motivasi lain.
Betapa Allah benar-benar menguji mental seorang mukmin.
Betapa seringnya aku harus bertanya pada diriku sendiri, ”Apa sih niatmu sebenarnya?” dan kembali menjawab, ”Ayo luruskan niat. Niatku hanya –dan hanya- untuk beribadah kepada Allah saja dan mengharap ridho-Nya saja.” Dan kembali berlanjut dan berlanjut.
Betapa menyesalnya ketika amal kebaikan yang dilakukan ternyata tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah jika niatnya saja sudah salah. Betapa Maha Mengetahui dan Maha Adil Allah SWT itu....
Betapa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang tetap tunduk menjalankan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-
larangan-Nya.
Betapa gersangnya jiwa yang tidak menyadari betapa besarnya rasa cinta dan kasih sayang Allah pada hamba-Nya yang juga mencintai-Nya.
Betapa hanya Allah saja yang mampu berkuasa atas segala sesuatu.
Subhanallah….aku kembali diingatkan untuk selalu meluruskan niat. Niat yang benar. Hanya mengharap ridho Allah. Hanya untuk beribadah kepada-Nya saja. Betapa dahsyat godaan setan. Senantiasa membelokkan niat yang benar. Mungkin untuk melakukan semua itu, akan
membutuhkan energi yang sangat besar. Sangat besar, bahkan aku sering merasa gugup untuk memulainya. Butuh
pemaksaan. Tapi seseorang mengatakan bahwa itu merupakan bentuk keikhlasan yang baru mampu kulakukan saat itu. Aku belum bisa melakukannya dengan gembira
tetapi dengan tarikan yang kuat untuk berhenti, bahkan untuk jatuh. Hal itu belum dapat kulakukan dengan bahagia.
Berat. Ya, bagiku memang berat... Tapi aku tahu inilah jalan yang benar. Aku tahu hanya jalan ini yang hanya membawaku pada keselamatan. It’s the only way...
------------------------------------------------------------------
Vertigo
Pikiran yang teralihkan. Saat memiliki tujuan tertentu, ada suatu faktor pengalih perhatian sehingga seakan-akan ‘si
pengganggu’ yang menjadi target dari apa yang ingin kita lakukan. Dan setan memang tidak pernah lelah mengalihkan perhatian mukmin dari tujuan mulia yang ingin
dicapainya. Dan gangguan itu memang benar-benar tidak main-main, melesat menuju sasaran yang tepat, yaitu hati.
Saat-saat seperti inilah dibutuhkan kerja keras dan langsung fokus pada tujuan sebenarnya. Segera meluruskan niat, membersihkan hati, dan berhenti bermain
api karena itu sangat berbahaya bagi jiwa.
-------------------------------------------------------------------
Celah !
Saat aku mulai melupakannya, tiba-tiba aku kembali diingatkan soal menjaga hijab. Betapa mungkin tanpa kusadari aku terlalu bebas membuka diriku, bahkan mungkin merespons meski aku sebenarnya merasa telah menaruh tembok besar alias batasan di hadapanku. Aku kembali diingatkan untuk tidak membuka celah sedikit pun.
Jika perlu, aku harus tega. Terima kasih untuk tidak membuka celah padaku. Aku diingatkan bahwa harga seorang mukmin itu sangatlah tak terhingga. Allah membeli
jiwa-jiwa yang penuh pengabdian pada-Nya dengan surga. Benar-benar murah diriku jika aku menjual pengabdianku, kecenderungan hidupku, bahkan cintaku pada zat-zat yang fana. Semuanya sudah ditentukan, jadi tenang dan fokus pada hal penting yang membentang di hadapanku sekarang.
-------------------------------------------------------------------
Dan karena aku ingin bersama-sama dengan kalian... dulur..
mencapai taman bunga yang indah di surga yang abadi kelak... in syaa Allah...
Friday, April 10, 2015
Labirin, White Rabbit, dan Cheshire Cat
Finally, after a long long time, I write this blog again.
Sudah saatnya mengungkap arti labirin, White Rabbit, dan Cheshire Cat dalam hidup saya.
Hanya segelintir orang saja yang tahu apa makna kata2 tersebut. Dan semua itu berhubungan dengan pria misterius yang namanya tertulis di lauhul mahfuz. Wah dalem juga ya. Karena saya suka sekalu kisah alice in wonderland dan bagaimana sebuah labirin seringkali menjadi setting kisah fantasi, maka saya membuat perumpamaan menarik.
Here we go.
Labirin ini merupakan jalan yang harus saya (dan PM-pria misterius) itu harus lalui supaya dapat saling bertemu.
White Rabbit adalah kelinci putih (baca: pria) yang dapat mengalihkan perhatian dalam menemukan jalan keluar labirin.
Cheshire Cat adalah 'prince charming' (meskipun kita tau, there are no such things as prince charming in real life), hehe..
Got that.
Dan sekarang saya telah berhasil keluar dari labirin itu.
dengan berdarah-darah.
meninggalkan white rabbit.
Menemui cheshire cat yang sangat amat asing bagi saya...
but I must try to love him, no matter what it takes.
Karena Allah yang telah mempertemukan kami, dalam ikatan jihad ini.
And I will never let him go.
and I hope he will do the same.
Trying to love me too.
Am I cry?
Yes, coz it's not easy, really really hard.
But I must do it, for Allah.
only for Allah.
because of Allah.
So God please help us.
Backsound: Taku Iwasaki - Labyrinth
Sudah saatnya mengungkap arti labirin, White Rabbit, dan Cheshire Cat dalam hidup saya.
Hanya segelintir orang saja yang tahu apa makna kata2 tersebut. Dan semua itu berhubungan dengan pria misterius yang namanya tertulis di lauhul mahfuz. Wah dalem juga ya. Karena saya suka sekalu kisah alice in wonderland dan bagaimana sebuah labirin seringkali menjadi setting kisah fantasi, maka saya membuat perumpamaan menarik.
Here we go.
Labirin ini merupakan jalan yang harus saya (dan PM-pria misterius) itu harus lalui supaya dapat saling bertemu.
White Rabbit adalah kelinci putih (baca: pria) yang dapat mengalihkan perhatian dalam menemukan jalan keluar labirin.
Cheshire Cat adalah 'prince charming' (meskipun kita tau, there are no such things as prince charming in real life), hehe..
Got that.
Dan sekarang saya telah berhasil keluar dari labirin itu.
dengan berdarah-darah.
meninggalkan white rabbit.
Menemui cheshire cat yang sangat amat asing bagi saya...
but I must try to love him, no matter what it takes.
Karena Allah yang telah mempertemukan kami, dalam ikatan jihad ini.
And I will never let him go.
and I hope he will do the same.
Trying to love me too.
Am I cry?
Yes, coz it's not easy, really really hard.
But I must do it, for Allah.
only for Allah.
because of Allah.
So God please help us.
Backsound: Taku Iwasaki - Labyrinth
Thursday, October 18, 2012
Kenangan dan Pengorbanan
menjadi buta dan tuli membuat hidup lebih mudah dilalui...
tapi mata kita masih melihat, telinga kita masih mendengar, dan...hati kita masih terbuka...
jika masa lalu menjadi kenangan indah, akankah kita tetap hidup di masa lalu?
jika tidak adalah jawabnya, bagaimana dengan masa lalu yang buruk?
jika tidak adalah jawabnya, apakah yang terbaik bagi manusia itu adalah yang ada di masa lalu?
sungguh merugi orang yang menyimpan masa lalunya tidak sebagai kenangan, tapi sebagai hidup mereka...
hiduplah di masa ini, berkaryalah untuk masa depan...
bukankah kita memahami bahwa hidup yang nyata itu bukanlah dunia yang fana ini?
untuk menjadi yang terbaik...
yang ada di tengah-tengah umat manusia...
dan untuk hidup yang lebih baik, hidup yang terbaik...
semoga Allah tidak menyisakan apa yang dapat menghalangiku dari janji-Nya nanti...
semoga Allah meluangkan hati kita untuk jalan yang "indah" ini...
jika ucapmu adalah "terima kasih" untuk "orang" yang kau tulis...
maka ucapku: "Terimakasih dan syukur pada Allah, yang telah memperkenalkanmu dalam hidupku..."
...di masa yang lalu...
...karena tidaklah sebuah kenangan akan kujadikan hidupku pada saat ini...
...dan kenangan akan tetap...
...menjadi kenangan...
-----------------------------------------------------
Tulisan di atas ini masih kusimpan sampai sekarang...
Entah siapa yang menulisnya... Tulisan ini merupakan komen seseorang atas salah satu posting saya tentang rasa cinta.. Entahlah... tapi aku rasa aku tahu siapa yang menulisnya... Setidaknya aku cukup yakin... meskipun dia hanya menggunakan nama samaran...
Kini dia telah pergi... menghilang seperti angin... menyisakan luka tapi sekaligus juga senyuman... Aku banyak belajar darinya. Dia tahu aku tak akan mungkin memilihnya, sebesar apapun rasa sayangku padanya dan sekuat apapun mulutku ingin berkata, YA. Dan akhirnya dia memilih untuk memilih yang lain. Itulah perbedaan besar kami. Pilihan kami tak sama. Memilih dan Menyerahkan. Meskipun aku hampir jatuh berkali-kali ke jurang yang sama, aku memilih untuk selamat. Meskipun banyak yang memilih, aku memilih untuk menyerahkan. Ya, tidaklah mudah. Itulah pengorbananku. Tapi bukankah cinta sejati itu tidak akan pernah mudah? ^___^
Sunday, July 24, 2011
Falling Leaves
Sepintas, makhluk itu terlihat begitu biasa. Hijau, meneduhkan, dan sekalipun dilukai, dia tidak akan menangis. Dia begitu menakjubkan. Salah satu ciptaan-Nya yang begitu menakjubkan. Dia senantiasa bertasbih memuji kebesaran 4JJ1. Dia tidak menentang-Nya. Dia bergerak sesuai angin yang berhembus. Begitu tak berdaya menuruti perintah Penciptanya. Dia dihidupkan. Dia tumbuh, berkembang, memberi manfaat bagi manusia. Dia menjadi makhluk yang mempesona dengan segala keunikannya. Jika sudah tiba saatnya, dia akan layu dan gugur ke tanah. Pernahkah kau melihat dedaunan yang berguguran. Sungguh indah bukan? Setelah gugur pun, dia akan mengurai dan membuat tanah menjadi subur, dan tak jarang dimanfaatkan manusia. Bagaimana dengan kita?
Tahukah kau saudaraku, bahwa sebenarnya manusia telah bersedia untuk memikul amanah dari 4JJ1 seperti firman berikut :
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan Amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul Amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah Amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
(Q.S. Al-Ahzab, 33 : 72)
Dari ayat ini, 4JJ1 mengingatkan manusia bahwa segi kezaliman manusia dan kebodohan manusia adalah mau menerima tugas, tetapi tidak melaksanakannya. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang zalim dan bodoh tersebut...
Bila dibandingkan dengan daun yang senantiasa tunduk kepada 4JJ1 dan memberi manfaat selama hidupnya, terkadang saya suka merasa malu pada diri sendiri. Betapa tak terhitungnya saya telah melalaikan amanah-amanah 4JJ1 di dunia. Padahal, dunia ini hanya persinggahan sementara. Manusia ibarat musafir yang sedang menempuh perjalanan dan akan berhenti di tempat yang abadi. Manusia seringkali merasa bahwa dirinya masih akan hidup bertahun-tahun lagi, sehingga tidak terpikir bahwa malaikat maut akan menjemputnya sedetik kemudian. Tragis, sungguh sangat tragis bila kita sering berpikir demikian. Dan terus terang, saya juga sering berpikir demikian. Masih ada hari esok…Ya, itulah yang seringkali terbersit di benak saya. Padahal, kita tidak akan pernah tahu kapan ajal menjemput bukan?
Saudaraku, marilah berhenti mengerjakan hal yang sia-sia…dan mari kita saling mengingatkan dalam kebenaran, karena saudara yang baik adalah saudara yang senantiasa mengingatkan saudaranya manakala dia
berbuat kesalahan.
Yang benar datangnya dari 4JJ1 dan yang salah datang dari saya pribadi dan saya mohon maaf kepada 4JJ1 atas kekhilafan tersebut.
_shirayuki_
dari tulisan tertanggal 19 Juni 2008
Henshin !
Perubahan ke arah yang lebih baik merupakan suatu harapan yang sangat mulia. Terkadang kita merasa ada sesuatu dalam diri kita yang harus diperbaiki. Ada yang dapat mengakui dengan jujur dan mengetahui apa yang perlu diperbaiki tersebut sehingga dia berusaha untuk memperbaikinya. Ada yang mengetahui apa yang ”salah” dalam dirinya, namun dia tidak berusaha untuk memperbaikinya atau setidaknya bersikap jujur terhadap dirinya sendiri. Dan ada pula yang mengakui, namun dia sudah terlampau putus asa untuk memperbaikinya, karena hal itu terjadi terus-menerus tanpa pernah bisa ia kendalikan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Jawabannya sangatlah mudah. Yang dibutuhkan adalah orientasi yang jelas. Tujuan yang jelas. Tanpa itu, manusia seperti berjalan tanpa arah, sehingga tidak akan pernah sampai ke tujuan. Senantiasa lelah sebab dia tidak pernah mendapatkan ketenangan yang dia harapkan dengan kemampuannya untuk memperbaiki diri. Jiwanya akan senantiasa resah sebab dia belum menentukan ke arah mana dia akan melangkah. Apakah itu merupakan kehidupan yang membahagiakan?
Orang yang sudah memilih jalan hidupnya tidak akan merasa resah. Baik jalan yang ditempuh itu baik maupun buruk. Yang jadi pertanyaan adalah, akan melangkah seperti apa hidup yang akan kita jalani ini? Segera bangun suatu pemikiran yang konkret tentang tujuan yang mau kita capai. Alangkah konyol dan sia-sia jika kita mengharapkan surga namun langkah kita justru berlawanan dengan tujuan kita tersebut, bukan? Terkadang ada yang mengatakan untuk menjalani hidup seperti air yang mengalir. Di satu sisi, dapat dikatakan bahwa orang tersebut memiliki tujuan yaitu mengikuti hidup apa adanya seperti air yang mengalir. Tanpa kendali, tanpa perlu pusing menghadapi kehidupan. Jalani saja… Tapi, di sisi lain, ungkapan ini sangat multi tujuan. Air yang mengalir itu bisa mengalir kemana saja, kan? Sangat abstrak. Sangat tidak menyentuh pemikiran manusia Allah telah berikan potensi untuk memahami ayat-ayat Allah, melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mendengar ayat-ayat Allah..
Tujuan hidup manusia itu adalah beribadah kepada Sang Penciptanya. Hal ini merupakan garis besar yang sangat krusial dan sangat menentukan keberhasilan hidup seorang manusia. Pernahkan Anda ditanya tentang tujuan hidup Anda? Lalu, apakah jawaban Anda? Meraih kesuksesan materi, kehormatan, gelar, keluarga bahagia? Apa standar bahagia dalam hidup Anda? Apakah dengan mendapatkan itu semua Anda akan bahagia? Seorang manusia seharusnya bahagia jika dia sudah menunaikan kewajiban hidupnya di dunia untuk bekalnya di akhirat nanti. Dia akan merasa bahagia manakala Sang Penciptanya meridhoi amal perbuatan yang telah dilakukannya. Bukankah hidup seperti itu sangatlah indah? Dia tidak akan tergelincir ke suatu hal yang sia-sia. Dia akan mengangkat seluruh kemampuan yang dimiliki hanya untuk mensukseskan tujuan hidupnya itu. Dia akan melangkah dengan mantap untuk mendapatkan kecintaan Sang Pencipta. Sungguh indah… Hari-hari dilalui dengan penuh kebahagiaan, tanpa perlu merasa resah, gundah, atau gelisah. Rasa sakit yang dunia berikan kepadanya tidak menggentarkan langkahnya sedikit pun untuk meraih kebahagiaan hakiki. Tubuhnya penuh luka dan terasa perih, namun jiwanya tersenyum bahagia. Segala penderitaan duniawi tidaklah sebanding dengan kebahagiaan yang dia rasakan. Ajal pun tidaklah menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Dia akan senantiasa siap dengan semua kehendak Sang Pencipta sebab dia rindu untuk bertemu dengan-Nya. Jadi, apakah tujuan hidup Anda?
Repost (lagi) dari older blog tertanggal 7 Mei 2008.
Orang yang sudah memilih jalan hidupnya tidak akan merasa resah. Baik jalan yang ditempuh itu baik maupun buruk. Yang jadi pertanyaan adalah, akan melangkah seperti apa hidup yang akan kita jalani ini? Segera bangun suatu pemikiran yang konkret tentang tujuan yang mau kita capai. Alangkah konyol dan sia-sia jika kita mengharapkan surga namun langkah kita justru berlawanan dengan tujuan kita tersebut, bukan? Terkadang ada yang mengatakan untuk menjalani hidup seperti air yang mengalir. Di satu sisi, dapat dikatakan bahwa orang tersebut memiliki tujuan yaitu mengikuti hidup apa adanya seperti air yang mengalir. Tanpa kendali, tanpa perlu pusing menghadapi kehidupan. Jalani saja… Tapi, di sisi lain, ungkapan ini sangat multi tujuan. Air yang mengalir itu bisa mengalir kemana saja, kan? Sangat abstrak. Sangat tidak menyentuh pemikiran manusia Allah telah berikan potensi untuk memahami ayat-ayat Allah, melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mendengar ayat-ayat Allah..
Tujuan hidup manusia itu adalah beribadah kepada Sang Penciptanya. Hal ini merupakan garis besar yang sangat krusial dan sangat menentukan keberhasilan hidup seorang manusia. Pernahkan Anda ditanya tentang tujuan hidup Anda? Lalu, apakah jawaban Anda? Meraih kesuksesan materi, kehormatan, gelar, keluarga bahagia? Apa standar bahagia dalam hidup Anda? Apakah dengan mendapatkan itu semua Anda akan bahagia? Seorang manusia seharusnya bahagia jika dia sudah menunaikan kewajiban hidupnya di dunia untuk bekalnya di akhirat nanti. Dia akan merasa bahagia manakala Sang Penciptanya meridhoi amal perbuatan yang telah dilakukannya. Bukankah hidup seperti itu sangatlah indah? Dia tidak akan tergelincir ke suatu hal yang sia-sia. Dia akan mengangkat seluruh kemampuan yang dimiliki hanya untuk mensukseskan tujuan hidupnya itu. Dia akan melangkah dengan mantap untuk mendapatkan kecintaan Sang Pencipta. Sungguh indah… Hari-hari dilalui dengan penuh kebahagiaan, tanpa perlu merasa resah, gundah, atau gelisah. Rasa sakit yang dunia berikan kepadanya tidak menggentarkan langkahnya sedikit pun untuk meraih kebahagiaan hakiki. Tubuhnya penuh luka dan terasa perih, namun jiwanya tersenyum bahagia. Segala penderitaan duniawi tidaklah sebanding dengan kebahagiaan yang dia rasakan. Ajal pun tidaklah menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Dia akan senantiasa siap dengan semua kehendak Sang Pencipta sebab dia rindu untuk bertemu dengan-Nya. Jadi, apakah tujuan hidup Anda?
Repost (lagi) dari older blog tertanggal 7 Mei 2008.
Subscribe to:
Posts (Atom)
